kegagalan

kata orang.
kegagalan adalah bagian dari hidup, tanpa merasakan gagal kita takkan tahu apa artinya berhasil. benar kan?

di beberapa tahapan dalam hidup - misalnya saja ketika ingin masuk sekolah favorit tetapi ternyata tidak. ketika ingin masuk perguruan tinggi ternyata nyasar di PTN yang tidak sesuai harapan.

tapi, apakah semua itu menjadi penyesalan bertubi-tubi?
oh tidak. life must go on. hidup itu terus berlanjut. kecewa paling hanya satu minggu, setelah itu kamu harus hidup.

tapi... ada yang berbeda. ada yang berbeda ketika memasuki angka 20 something. hehehe.
kegagalan itu terasa nyata. pahit. luka.
katanya orang-orang mengalaminya. kamu nggak sendiri.

bahkan - meskipun hidup dan rutinitas terus berjalan. mengingat kegagalan itu adalah suatu hal yang perih. apa karena belum ada obatnya? entahlah.

tapi... sesuatu yang hilang itu bukankah akan diganti yang lebih baik?
sebentar.. saya belum memilikinya!
ohhh.... sesuatu yang tidak jadi milikmu itu adalah hal buruk di kehidupan kelak!

ternyata - terlalu berharap terhadap sesuatu/seseorang adalah penyakit yang sesungguhnya.
masa muda yang menggelora ini terlalu banyak menaruh harapan dan kepercayaan diri yang kelewat tinggi. dan lupa - ada Tuhan yang mengatur segalanya... ada Allah yang maha pengasih dan penyayang yang menggariskan takdir kita. kita hanyalah manusia yang mampu berikhtiar dan meminta.

kamu tidak sendiri... nikmati hidupmu.

gagal - ditolak. adalah pencapaian hidup kamu untuk naik derajatnya. ditempa menjadi manusia yang lebih hebat dan kuat.

Assalamualaikum, Bangkok!

 Petchburi Road

Semburat senja selalu kulihat dari balkon apartemen, meskipun bukan tinggal di lantai paling atas. Rumah ini merupakan rumah terindah yang kutempati diantara hirukpikuk kota metropolitan. Kamar no.  802, lantai 8, dimana dari sini terlihat awan-awan indah,  bulan yang bersinar cerah, bintang berkelip yang bisa dihitung jari kalah dengan jumlah gedung-gedung pencakar langit yang ada di sebrang jalan flyover di hadapanku, komposisi yang pas.  Membuatku,  bersyukur sampai serasa tumpah hati ini - dengan skenario yang telah Tuhan buat untukku merasakan hal ini.
Di balkon ini biasanya,  Aku merenungi berbagai hal, mentafakuri keindahan langit senja, ketika matahari tergelincir diantara gedung pencakar langit,  kekuasaan Allah.

-senja di Bangkok-

Guru ngajiku pernah ragu ketika Aku memutuskan untuk pergi ke Bangkok,  katanya-belum ada muhrim.  Aku tersenyum, karena Aku percaya dimanapun berada Allah akan selalu melindungi kita.  Aku yakinkan beliau bahwa disana Aku akan tetap mempelajari islam dari majlis ilmu,  dan dia - tetap tidak yakin tapi mendukung.  Begitupun ibu.

Kupasrahkan semuanya pada Allah,  sejak namaku dipanggil peserta ppl-ln. Akankah Aku menemukan hamba Allah untuk menemani menjaga keistiqomahanku? Di wilayah 90 % beragama budha? Akankah Aku selalu istiqomah sedangkan imanku masih compang camping?
Tak henti-hentinya Aku bersyukur sampai menitikkan air mata ketika pesawatku landing,  hal ini karena Aku tak pernah pergi sejauh ini dan selama ini dari rumah.  Keputusan yang besar dalam hidupku dengan perjuangan dan pengorbanan yang cukup menguras waktu, materi dan pikiran.
Sudah kupatrikan dalam diri,  Aku pasti menemukan cahaya cinta majlis ilmu, meski tak tahu cara menemukannya.
----
Aku sedikit kecewa ketika hari pertama berangkat ke sekolah,  ternyata lokasi apartemen dan KBRI (sekolah juga)  berjarak 2 km, artinya sekitar 25-30 menit kami berjalan kaki,  menyusuri semburat matahari pagi yang silau dan terik karena Bangkok memang bersuhu tinggi - kalau menurutku lebih panas bangkok daripada jakarta. Apalagi di musim kemarau.
Aku ambil nafas satu-satu, wajah sudah seperti kepiting rebus rasanya - Bapak kepala sekolah tersenyum karena menemukan kami yang kepayahan.

panas pagi di Bangkok
---
Beberapa hari kemudian, Aku baru menyadari bahwa jalan kaki 30 menit ini membuatku mengetahui aktifitas di sepanjang jalan.
"assalamualaikum" seorang satpam bernama ayyub ramah menyapa kami. Melambaikan tangan seperti mengajak highfive.
Meski memakai masker,  aku tahu ada wajah tersenyum ikhlas.
Aku balas tersenyum.
Ia baru memberitahu nama ketika sudah 3 minggu kami disana.
"assalamualaikum! Sawaddee ka,  I'm ayyub,  how are you? "
Aku mengira dia menghafalkan percakapan itu.
"hi mr.  Ayyub,  we are fine,  thankyou.  Nice to meet you, goodmorning,  sawadde dwan chao... Wa'alaikumsalam" balasku hikmad. Ia menangkupkan tangannya.
Dari kejadian itu aku sadar,  ia seorang muslim. Lalu kujawab setiap hari salamnya.
Bukam hanya itu,  Aku sudah hafal orang-orang yang berlalu lalang, dan akan bertemu kami di titik mana.  Jika, kami telat maka pertemuan kami tidak bertemu di titik pas,  tapi lebih dekat dengan tempat tinggal kami.

Kami bertemu biksu setiap hari, mereka. Memakai pakaian khas berwarna oranye, biasanya tiap pagi mereka membagikan sesuatu dan mendoakan orang.  Mereka tersenyum ramah dan bersahaja. Tetapi,  yang harus kami jaga,  kami tidak boleh terlalu dekat,  ibaratnya jika di islam, Mereka seperti ustadz, kita tidak boleh membelakanginya,  tempat duduk bus paling depan biasanya dikosongkan untuk para biksu.  Ya,  seperti itu.

Ironi ya jika kita lihat negara Indonesia, dari sekian banyak orang berbagai profesi,  ustadz diserang beberapa kali yang katanya oleh orang tak berakal,  sungguh tak masuk akal.
Selain rutinitas itu, ada yang lebih berkah dari kejengkelanku karna apartemen yang jauh, yaitu "mereka", Kamar 209, merupakan pertemuanku dengan mereka - di awali dari guru di sekolahku yang mengajak kajian.
"disini suka ada kok,  ngaji orang-orang Indonesia seluruh bangkok, saya masukin ke grup oke?  Ikut ya" kata Ibu Tanti.
Aku tersenyum,  mengangguk,  kemudian memberikan no. whatsapp ku.
"kalau mau ngaji mahasiswa datang aja di diana court,  tiap sabtu sore jam 5" katanya lagi.
Aku tertegun, dari luasnya Bangkok,  pertemuan pengajian mahasiswa ada di apartemenku?
"mbak dimana tinggalnya? " tanyanya.
"diana court bu" kataku.
"ohh?  Yasudah kebetulan,  datang saja ya" katanya.
Aku mengangguk.
Ya,  datanglah Aku ke kajian di lantai 2, no.  209, yang belakangan ternyata kamar anak muridku,  Aslam.
Di kamar kecil itu, setelah membaca Al-qur'an kami membahas tentang penggunaan obat karena pemateri berasal dari mahasiswa S2 keperawatan,  Aku melihat suatu ikatan yang kuat berdasarkan islam,  Aku merasa senang bertemu dengan mereka. Mereka kebanyakan mahasiswa S2 dan S3 beasiswa,l dan mahasiswa exchange. ada yang masih jomblo, dan ada yang membawa serta keluarganya ke Bangkok.  Aku berkenalan dengan mereka, kebanyakan dari jawa, dan beberapa orang dari sumatra dan kalimantan. semoga silaturahim kita tetap terjaga meskipun singgahku hanya beberapa kali disana. ini penampakan pengajian  :

 pengajian di 209, Diana Court

Pengajian di masjid Darul Aman, soi 7, Bangkok.

Tempat tinggalku memakan waktu sekitar 15 menit berjalan kaki ke tempat mayoritas muslim,  soi 7. Disana Aku bisa menemukan makanan halal dan ramah di kantong,  disana Aku pun menghadiri pengajian di masjid Darul Alam, ternyata ada yang kembali kepada Allah hari itu sehingga masjid ramai karna jenazah sedang dimandikan.
Aku menemukan cahaya disini,  karena kajian ini dipimpin oleh ustadz Eldrick yang berasal dari Papua, ia berhasil membuatku menahan air mata karena materinya tentang dzikrullah,  ustadz Eldrick mengingatkanku kepada ustadz khalid yang sering kutonton di youtube.
Selain berceramah tentang dzikrullah,  Aku diceritakan betapa pentingnya kita sebagai umat islam berkumpul bersama dimanapun berada,  entah itu hijrah di tempat mayoritas atau minoritas-agar syariat islam dapat ditegakkan misalnya dalam pengurusan jenazah seperti sekarang.
Kebayang kan,  kalau kita mati diurusnya tidak sesuai syariat agama islam?  Di bekukan?  Di awetkan?  Ngeri....
Ketika menjelajahi beberapa mall disini, ternyata mereka menyediakan tempat ibadah yang jauh lebih nyaman daripada Indonesia, ketika Aku pergi ke Asiatiq (salah satu pusat belanja yang harus naik perahu untuk menyebrang)  Aku menemukan masjid yang sangat nyaman dan daerah muslim disana😁
Penjelajahan ku di Bangkok tentang islam belum selesai. Masih banyak hal yang harus ku gali entah dari orang-orang,  maupun dari keunikan tempat ibadah. InsyaaAllah minggu depan,  Aku akan ke masjid jawa.
Ternyata, Allah akan selalu mempertemukan saudara muslim dimana pun berada!  :)

senja dari apartemenku

TENTANG SEKOLAH INDONESIA BANGKOK (SIB)


Sekolah Indonesia Bangkok (SIB).
"jadi ngajarnya orang Indonesia? "
"gak ngajar orang Thailand? "
"kok sekolah Indonesia? "
Pertanyaan itu yang paling sering muncul dari temen-temen.
Jadi gini,  Sekolah Indonesia Bangkok (SIB)  ini merupakan Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN),  sekolah ini emang sengaja diadakan oleh pemerintah Indonesia untuk memberikan pelayanan pendidikan bagi warga negara Indonesia yang berdomisili di luar negeri, SILN itu nggak cuma di Thailand aja, ada sekitar 15 SILN di dunia seperti sekolah indonesia kuala lumpur (SIKL),  sekolah indonesia singapura (SIS), sekolah indonesia jeddah (SIJ) , Dan SILN lainnya.  Jadi,  meskipun di luar,  anak-anak Indonesia tetap bisa sekolah di lingkungan yang Indonesia banget dengan sistem pendidikan Indonesia.
Nah,  selama PPL di Sekolah Indonesia Bangkok (SIB)  ini, Aku mengajar SD kelas 2,4 dan 5. 
Tugas tambahan biasa lainnya juga seperti mendampingi ekskul,  karyawisata,  dll.
Di SIB ini sekolahnya 1 atap dengan jenjang TK,  SD,  SMP,  dan SMA.  Dengan 16 ruang kelas. Sekolah ini juga insyaaAllah aman karena berada di kompleks KBRI,  selain aman fasilitasnya juga keren dan lengkap. Kurikulum yang dipakai oleh sekolah ini sama kayak sekolah Indonesia yaitu KTSP dan Kurikulum 2013, jadi insyaaAllah mudah menyesuaikan.
Dengan 1 atap tersebut,  guru-guru disini juga dituntut untuk bisa mengajar multijenjang, eits!  Guru disini mengalami proses seleksi yang ketat lho agar bisa ditempatkan di SILN.  Makanya,  Aku  belajar banget dari mereka,  karna untuk ngajar disini kalian harus punya pengalaman mengajar 5 tahun dan persyaratan lengkap lainnya.

Oke,  itu intermesso tentang SIB.

Jadi,  iya.  Aku ngajar anak-anak Indonesia dengan latar belakang heterogen. Jadi murid disini, memang ikut orangtuanya bekerja.  Ada yang bekerja di KBRI maupun di perusahaan swasta.  Tapi,  ada juga yang memang orangtuanya sudah tinggal puluhan tahun disini dan 'menetap' disini.
Selain itu,  ada juga yang memang karena orangtua nya berjodoh yang satu warga negara indonesia, yang satu warga negara Thailand,  mereka tinggal di Thailand dan menyekolahkan anaknya di SIB.

Kesan pertama ketika masuk sekolah ini : bersih.  Tentu aja dong,  karna di kompleks KBRI,  kebersihan dan keindahan adalah hal utama. Karena iklim di Bangkok ini lebih panas dari Jakarta,  setiap rungan punya AC.  Dan ditiap sudut ada dispenser yang keluar air dingin yang menyegarkan. Di  depan sekolah juga banyak tanaman hias yang mempercantik suasana.

Ketika di sambut di ruang guru,  kepala sekolah dan guru-guru sangat ramah. Setelah beberapa hari disini,  sudah seperti keluarga sendiri.  Maklum,  karena kita merasa 1 tanah air dan merantau di negeri orang lain.
Murid disini lebih sedikit dibanding sekolah di Indonesia,  karena lokasinya yang berada di Bangkok.  Meski sedikit pembelajaran disini justru sangat totally banget dan jadi efektif untuk menyampaikan materi pembelajaran. Aku belajar banyak disini tentang profesional dan menghargai waktu.

Supersibuk dan padat.
Itu adalah kesan dari pembelajaran senin-jum'at.
Antar murid disini juga seperti keluarga,  kayak nggak ada batasan untuk berinteraksi.  Dari kelas maupun jenjang,  semuanya pasti kenal dan saling menyapa dari TK, SD,  SMP,  maupun SMA.  ini yang membuat kami dekat dengan mereka,  seperti adik sendiri

SIB ini juga fasilitasnya kece, meskipun sekolahnya didesain minimalis Dengan cat berwarna kuning dan nggak bertingkat , namun pembelajaran didukung fasilitas yang modern. Jadi,  segala ada. Di kelasnya sudah lengkap ada AC,  lemari,  kursi meja,  layar led 40 inch (kalau di Indonesia fungsinya sebqgai proyektor), papan tulis,  dibeberapa kelas juga terdapat kulkas).   Bahkan,  Aku disini belajar fotokopi dan print sendiri dari mesin fotokopi sekolah.  Media pembelajaran juga kadang Aku buat alternatif aja dari bahan-bahan di sekolah hehehe.  Ya,   se kreatifnya kita aja lah ya...
Pokoknya guru disini multitalent!
Nggak cuma hubungan siswa ke kita (mahasiswa PPL)  aja yang baik,  hubungan sama kepsek dan guru-guru disini juga pada baik banget.
Jangan heran,  kalau mereka sering ngajak kesana kemari ke objek wisata yang terkenal di Bangkok.
Minggu pertama disini,  aku diajak ke wat arun,  riverland,  wat pho, dll sama guru-guru disini.  Pokoknya asyik banget. Apalagi kalau ditraktir hehehe.
Kepsek juga sering ajak kita makan bareng diluar gitu trus dijajanin.  Hehehe.
Intinya,  atmosfer disini profesional.
Ketika disekolah kita serius jadi guru, ketika diluar kita dekat.
Deketnya juga sama semua guru. Malah, kadang kita suka kecapean karna diajak giliran sama guru-guru hehe makasih ya pak bu...
Kalau untuk pembelajaran, sama kayak pembelajaran di Indonesia.  Tapi disini yang Aku rasain,  aku bisa improve kemampuan aku dengan jumlah siswa yang nggak terlalu banyak.  Trus,  kita kayak jadi saling sharing bukan mendikte. Selain belajar,  ekskul disini juga aktif banget,  dan gurunya sangat profesional.
Jadi, Aku belajar untuk profesional dan total untuk ngajar.
Nggak cuma sama guru dan murid,  kita juga deket sama staff disana yang ramah banget,  bahkan petugas kebersihan yang orang Thailand aja selalu ngucap salam dan ngajak ngobrol yang kita nggak ngerti. hehehe.
Overall,  lingkungan disini sangat mendukung untuk pembelajaran sih,  apalagi si kompleks KBRI yang pasti memperhatikan sekolah ini.

Itu garis besar dari Sekolah Indonesia Bangkok (SIB) dari sudut pandang Aku. Next,  Aku akan bahas tentang rutinitas sekolah dari mulai Aku bangun sampai tidur dari hari senin-jum'at ya.

ini beberapa penampakan aktivitas sekolah :
(SPORT HALL)

LAPANGAN SEPAKBOLA DI DEPAN SEKOLAH

DEPAN SEKOLAH

RUANG GURU

DEPAN KBRI (SEKOLAH SIB DI BELAKANG KANTOR KBRI)

RUANG KACA


PPL DI SEKOLAH INDONESIA BANGKOK SERI 1 (TENTANG PPL)

----

Telat banget sih untuk nulis karena kemarin-kemarin emang masih adaptasi. Jadi cuma nulis iseng aja di catatan kecil tentang dari awal perjalanan di Bangkok. Dan ada juga yang nanya gimana proses keluar negeri ini hehehe. dari dasar itu, Aku coba nulis ya. Karena katanya, yang abadi itu tulisan :D
Semoga tulisan ini bisa menginspirasi teman-teman semua. Maafkan jika penulisan ini kurang enak dibaca dan lebih kayak curhat hehe.

CHAPTER 1 – PPL di Thailand, Kok Bisa?


Jadi gini ceritanya, sebenarnya nggak ada yang spesial kok. Tetap, karena Allah yang nakdirin semuanya. Karena waktu itu, udah pasrah banget mau total aja ngajar di Tasik. Ternyata, Allah kasih kesempatan buat dapet pengalaman di lain tempat.
Waktu semester muda dulu, emang sempet mupeng (muka pengen) gitu ngeliat kakak tingkat yang KKN-PPL selama 5 bulan di Thailand. Kayak, wow! Mereka fighter banget gitu, ngeliat teh Anisa, kang Tantan, dan yang lainnya. udah mah emang Aku suka banget hal-hal yang beda dan menantang, jadi langsung do’a “I will be there, soon!”. Tapi, pas ditunggu-tunggu ketika semester 5, nggak ada kabar banget tentang program KKN-PPL ini huhuhu L
Akhirnya, Aku pun KKN di daerah Purbaratu Tasikmalaya.
Tiba saatnya kontrak mata kuliah PPL. Waktu itu emang udah ada desas-desus di grup angkatan plus dosen kalau ada program PPL di luar negeri, tapi di Malaysia. Yaudah, daftar dong. Muthia Hilfah. Widih, daftar aja duluk :D
Waktu itu, lagi fokus banget jadi pimpinan produksi di pentas akbar teater, salah satu amanah terbesar sepanjang Aku berorganisasi. Seingatku, ada belasan orang yang berminat PPL-LN ini. Aku juga kurang tahu ini program dari mana, karena memang terkesan bias sekali, kabarnya pun simpang siur.Sudah lupa juga tapi tetap ngobrol aja gitu ke Allah “ini benaran nih nggak akan dikasih kesempatan tahun ini? yaAllah kepengen” hahaha maapin anaknya ngotot.
Terus akhirnya ada pemberitahuan kedua mengenai seleksi PPL-LN, disuruh ngisi formulir dan dikasih tau biaya yang harus ditanggung. Tapi waktu itu, Aku lagi fokus banget ke pentas akbar, jadi nggak kepikiran megang hp juga. Gabuka grup grup kayak gitu, yang dibuka cuma chat yang berhubungan sama kepentingan pentas. Waktu itu Cuma kepikiran “yaudah kalau emang rejeki akan diberangkatkan, sekarang fokus pentas dulu”. Nggak, nggak ngirimin formulir. Pupus sudah harapanku………….
Selesai euphoria pentas Aku kembali sibuk dengan persiapan PPL, amanah di organisasi juga di copot satu-satu. Kemudian, waktu itu lagi galau aja terus beres-beres, nyuci piring biar capek, pokoknya gimana caranya nanti malam cepet tidur.
“mut?”
“ya?”
Ngeberentiin musik.
Kemudian mengalirlah tawaran yang kedengarannya mustahil itu, soalnya emang nunggu kabar burung banget sedangkan PPL di depan mata. Dosenku nawarin akuu untuk nunggu kabar dari pihak P2JK agar Aku bisa berangkat ke Malaysia, padahal Aku tahu, kesempatan itu sudah di isi oleh 2 orang. Sahabatku sendiri.
“kamu mau kan? Tunggu kabar ya, berangkat ya bener?”
Aku ngangguk sambil ngebilas piring yang dicuci.
Sebelum ke orangtua, Aku sempet diskusi juga sama teman dekat dan dia bilang “nggak ada alasan yang bikin Aku nggak berangkat”. Oke. Pas izin ke orang tua juga kayak dapet lampu hijau gitu.
Setelah berbicara mengenai kelebihan kekurangan Aku PPL di luar negeri, akhirnya orangtua Aku bilang lakukan aja yang terbaik menurut Aku. They’re open minded.
Setelah H-3 hari pembekalan PPL, Aku dihubungi dosen tersebut.
“mut segera buat passpor ya”
Hah? Jadi nih?
“tapi ke Bangkok ya, tetap mau kan? Nggak beda jauh kok”
Hah? Bangkok? Mario maurer?
“ehhh bentar bu izin dulu orang tua!” kataku refleks teriak.
Dia ketawa.
“santai aja mute, santai”
Aku mikir-mikir lagi sih, kalau Malaysia kan nggak beda jauh kayaknya dari segi bahasa, kultur, dan makanan. Ini Bangkok?
Yaudah deh solat disitu, tapi ternyata yakinnya berangkat guys…..
Emang orangnya suka tantangan gitu L
Aku kayak punya pikiran, kayaknya kalau nggak maksain nggak akan tercoret tuh impian ke luar negeri, kapan lagi sih? 22 tahun itu target Aku ke Jepang, ya sebentar lagi sih… meskipun bukan Jepang seenggaknya luar negeri wkwkk norak banget ya.
Gitulah galau hatinya.
Yaudah akhirnya keesokan harinya, Aku bilang orangtua. Mereka juga tetap ke keputusan awal. “silahkan aja kamu yang tahu kebaikan kamu”.
Oke dengan waktu terbatas itu. Aku konfirmasi ke dosen kalau Aku siap-siap aja tapi belum buat passport.
Aku buat passport selama 9 hari karena terpotong sabtu minggu dengan segala drama yang Aku hadapi. (mungkin akan aku bahas di chapter lain)
Waktu pembekalan PPL dahulu, sebenarnya sudah diumumkan kalau Aku memang akan PPL di Thailand, tapi karena belum ada kepastian tanggal berangkat  jadi nya di suruh ngajar dulu di SD Tasik. Di SDN Sukamulya ini Aku benar-benar belajar persiapan mengajar disana. Buat RPP, nulis sambung RPP, dan sharing mengenai kegiatan disini.
Surat tugas dari Rektor sudah dikantongi, tiket pesawat juga sudah dikantongi.
Yap this time to my first trip to other country :D
Setelah pamitan ke dosen pembimbing, kapordi, wadir, direk, dan teman-teman. Berangkatlah AKu sendiri ke Bandung menggunakan Elf dengan koper gede, tas gendong dan tas kecil.
Kenapa Aku bisa berani?
Karena Aku percaya, selalu ada orang-orang baik disekitar kita.
Selalu ada.
Allah nggak akan membuat kita susah. Tapi realistis juga dengan biaya ya. Alhamdulillah, uangku rasanya cukup dengan kadar hemat.
Aku menginap di rumah temanku yang bernama Lilis, dia sekarang teman sekamar di Bangkok. Besoknya kita berangkat dari jam 9 dari Bandung ke Bandara Soekarno Hatta-Cengkareng, (disini ada cerita lucu dari temanku Nadin, dia tertinggal pesawat dan harus menambah biaya pesawat untuk bisa berangkat keesokan harinya).
Kami sudah check-in bagasi dari pukul 14.45, setelah menunggu nadin tetapi belum kunjung datang karena ada halangan.
Jam 16.45 kami terbang menuju Thailand selama 3 jam setengah.
Beautiful journey :’)

Jadi juga PPL di Thailand.

(Penampakan jalan di Bangkok yang banyak gedung pencakar langit)

BIG C BANGKOK (salah satu pusat belanja di Bangkok)

[CURHAT-1] Bandung - Dilepas Bapak Rektor menuju PPL-LN

Bandung, 15 Februari 2018

“yaAllah pertemukan Aku dengan beliau tetapi di forum yang berbeda, yang lebih intim, yang lebih spesial, ingin disalamin sama beliau”

Do’a itu  kupanjatkan “iseng” tanggal 12 februari ketika ada visitasi dan akreditasi di prodi-ku. Waktu itu, di ruang auditorium rektor universitas pendidikan Indonesia Bapak Dr. H. R. Asep Kadarohman, M. Si memberikan sambutan singkat. Sambutan yang memotivasi kami semua. Ternyata Aku bisa mengagumi seseorang juga. Hehehe. tersihir dengan wibawa dan tutur katanya Aku refleks mengucapkan do’a tersebut.

Beberapa bulan kemudian. Do’a itu terwujud-padahal do’a ku cuma satu kali. Saat itu saja. Tempo hari, 15 Februari 2018. Di ruang partere, UPI. Bapak rektor melepas ke-8 mahasiswa yang akan menjalani program pengalaman lapangan ke sekolah Indonesia di luar negeri. Sebagai salah satu mahasiswa tersebut, tentu saja terharu. Ternyata, ucapan kita itu do’a. Tuhan itu pasti mendengar. Tuhan itu Cuma menunda untuk mengabulkannya saja kok ☺

Hari ini, Bapak rektor kembali menggugah semangat kami, Aku tersenyum karena hari ini di meja yang sama dengan beliau. bapak rektor mengatakan bahwa program ini sangat penting, karena kita hidup di komunitas ASEAN, kita harus mengetahui konsep sistem yang ada di komunitas Asean. Beliau mengatakan bahwa “Teaching practice at Indonesian school in ASEAN one of target you have experience how to work in some asean countries, so this program is very important. Not only for about university, but also for our country, Indonesia”.

Selain Bapak rektor, di ruang parterre tersebut dihadiri oleh Dr. H. M. Solehuddin, M. Pd  yang mengatakan bahwa “beliau membawa 3 nama ketika belajar di luar negeri yaitu Islam, Indonesia, dan nama dia Sholehuddin”. Duh, sungguh pengalaman yang luar biasa bertemu dengan orang-orang hebat. Apalagi dukungan dari kaprodi Bapak Dindin, yang bukan secara mental saja tetap raga dan materi juga hehehe :D

Meski Cuma 2 bulan, untuk seorang mahasiswa yang berstatus menerima beasiswa, ini merupakan capaian yang luar biasa. Allah memang selalu mendatangkan orang-orang baik. Seperti dosen saya Ibu Oca yang selalu hadir dan selalu menyenangkan hati.

Yang saya pelajari dari proses ini adalah. Jangan pernah merasa diri kamu rendah, kamu harus percaya pada dirimu dan Tuhan-mu bahwa kamu mampu mewujudkan mimpi-mimpi mu (
Yes. Kurang lebih pukul 09.00 setelah saya bersalaman dengan bapak rektor beserta pejabat kampus lainnya. akankah saya mendapat kesempatan menjadi seperti mereka? yap tunggu skenario Allah yang lebih indah yaaaa, dan doakan yaaaa☺❤

Semoga kita kuat dan mampu

Tak ada cara yang lebih sempurna dari menerima rasa sakit itu sendiri. Seperti ketika kamu jatuh karena gravitasi, biarkan saja jatuh. Jik...